Friday, January 11, 2008

Obligasi Terbesar di Asia

Obligasi Terbesar di Asia
Investor Amerika Serikat Borong Obligasi Indonesia
Jakarta, Kompas - Dua obligasi berdenominasi dollar AS yang diterbitkan Departemen Keuangan dapat menyerap dana dua miliar dollar AS. Ini merupakan lelang obligasi valuta asing Indonesia terbesar sepanjang sejarah republik ini. Penerbitan dua obligasi itu dilakukan pada 10 Januari 2008.

Kedua seri obligasi itu dinamakan Indo-18 dan Indo-38, yang masing-masing menyerap satu miliar dollar AS. Indo-18 jatuh tempo 10 tahun, tepatnya 18 Januari 2018, dengan imbal hasil (yield) 6,95 persen dan tingkat kupon 6,875 persen.

Seri Indo-38 diterbitkan dengan tenor 30 tahun, yang jatuh tempo pada 18 Januari 2038. Seri ini dilepas dengan yield 7,74 persen dan kupon 7,75 persen.

"Ini transaksi obligasi terbesar Pemerintah Indonesia. Di Asia, tidak ada pemerintahan yang menerbitkan obligasi sebesar itu sejak 1998," ujar Dirjen Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto di New York, Amerika Serikat, Jumat (11/1).

Sebelum melakukan lelang, pemerintah menggelar paparan tentang kondisi Indonesia atau roadshow. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memimpin roadshow tersebut.

Pemaparan dilakukan di Singapura, Hongkong, London, Los Angeles, Boston, dan New York.

Dalam proses lelang, pesanan yang masuk mencapai tiga miliar dollar AS sehingga ada kelebihan pemesanan terhadap obligasi, yang diambil sebesar 1,5 kali.

Dana hasil lelang Indo-18 dan Indo-38 akan digunakan untuk menutup sebagian defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2008, yang ditetapkan Rp 75,04 triliun. Target penerbitan surat utang neto Rp 91,6 triliun.

Sebelumnya, hasil lelang obligasi valuta asing terbesar yang dilakukan pemerintah adalah untuk seri Indo-37. Obligasi yang diterbitkan 14 Februari 2007 itu menyerap 1,5 miliar dollar AS.

Diborong investor AS

Berdasarkan data Depkeu, seri Indo-18 terdistribusi di tiga wilayah, yakni 24 persen di Asia, 47 persen di AS, dan 29 persen lainnya di Eropa.

Adapun seri Indo-38 tersebar di Asia sebanyak 10 persen, di AS 52 persen, dan di Eropa sebanyak 38 persen.

"Itu pertama kalinya investor institusi AS mendominasi transaksi, terutama untuk obligasi dengan tenor terpanjang, yakni 30 tahun," kata Rahmat.

Hal itu, lanjut Rahmat, menunjukkan adanya kepercayaan investor AS atas kredibilitas Pemerintah Indonesia dalam mengelola ekonomi jangka panjang.

Kepala Ekonom BNI A Tony Prasetiantono mengatakan, yield kedua obligasi itu tergolong mahal. Sebagai gambaran, yield Indo-38 yang ditetapkan 7,74 persen, itu sekitar 4,74 persen di atas laju inflasi AS yang mencapai tiga persen.

Sebagai perbandingan, kata Tony, Obligasi Ritel Indonesia (ORI), yang diterbitkan dalam rupiah, ditetapkan dengan yield 9,25 persen. "Itu artinya tiga persen di atas laju inflasi Indonesia yang mencapai 6,59 persen. Jadi margin ORI dengan obligasi global itu masih lebih rendah," ujar Tony. (OIN)